Analogi : Kapal Tenggelam, dimana kah kita?

pallada-tall-shipAlhamdulillah, setelah membaca bab I buku Menyongsong Mihwar Daulah karya Ust.Cahyadi, saya menemukann banyak sekali ilmu baru, terutama mengenai kenaoa harus da’wah (amar ma’ruf nahi munkar)..

Guys.. (ciee sok gaul), kalo hare gene masih gak mau dakwah, beeeeeeeeeuuuh, siap-siap rugi daaaaah…

Kenapa saya bilang rugi, Rasulullah pernah menganalogikan mengenai kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar seperti sebuah kapal, ternispirasi dari analaogi kangjeng Rasulullah, saya kembangkan dikit analoginya, begini analoginya…

Ada sebuah kapal yang sedang berlayar dilautan yang luas,

dikapal tersebut ada beberapa kelompok orang yang tinggal di atas kapal, menikmati indahnya pemandangan laut, dan merasakan kesejukan tanpa hadirnya orang-orang yang sedikit nyeleneh di dek bawah kapal..

sedangkan di bagian bawah dek kapal, ada sekelompok orang yang lebih senang brkumpul di bawah

Suatu ketika, dihari yang cerah, sekelompok orang yang dibawah membutuhkan air yang cukup banyak, berhubung jika mengambil air laut melalui dek atas kapal keajuhan, maka ia memutuskan melubangi beberapa bagian kapal sehingga air laut dapat masuk kedalam kapal.

Lama-lama kapal mulai terisi dengan air laut, dan tentunya bisa menyebabkan kapal tenggelam jika dibiarkan terus menerus. Pemberitahuan pun diudarakan ke seluruh penjuru kapal. Beberapa penumpang ada yang langsung turun ke bawah dan mengingatkan para pemabuk bahwa jika lubangnya tidak ditutup maka kapal akan tenggelam, namun penumpang lainnya cuek bebek menikmati pemandangan laut.

Dikarenakan jumlah yang berusaha menutup lubang sedikit, ditambah para penumpang yang melubangi tadi tida semua sadar jia perbuatannya dapat membuat kapal tenggelam, akhirnya lambat laun kapal pun tenggelam, bersama seluruh isi penumpang… -the end-

Nah, apa arti dari cerita di atas?

Dianalogikan para ahli ma’siat adalah sekelompok orang yang tinggal di bawah kapal, manusia yang cuek bebek melihat para ma’siat berma’siat adalah penumpang di dek atas yang enggan turun untuk menambal lubang di kapal, dan da’i adalah penumpang dek atas yang turun dan berusaha menambal lubang..

Berdasarkan cerita di atas, siapakah yang bertanggung jawab atas tenggelamnya kapal?? tentunya dua pihak, pertama yang melubangi, ke kedua adalah pihak yang tinggal di dek atas namun cuek bebek melihat kapal yang dilubangi.

Begitu pula di dunia nyata, banyak sekali kemaksiatan yang terjadi di sekeliling umat manusia, tapi kok masiiiiiiiiiiiiiiiih adaaaaaaaaaaaa aja yang bilang

“gwe mah yang penting shalat, puasa, dah aman, dapet surga Insya Allah, jadi Islam yang normal-normal aja laaaah”

Guys, tau gak sih kalo sampe ada maksiat di depan, belakang, samping kanan, samping kiri, atas, bawah kita (pastinya banyak laaaaa) dan kita sok-sok-an ga peduli, dan sibuk meng-sholeh-an diri sendiri, maka tunggu saja waktunya kita akan tertimpa kebinasaan…

Dalam surat Al-Anfal : 25

“Dan peliharalah dirimu dari siksa api neraka yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara alian…”

Para mufasir memahami ayat di atas sebagai sebuah peringatan keras dari Allah SWT, bahwa apabila nahi munkar telah ditinggalkan maka azab Allah ditimpakan secara merata, tidak hanya kepada pelaku kedzaliman saja.

Ibnu Abbas mengomentari ayat tersebut seraya berkata

“Allah memerintahkan orang-orang beriman agar tidak menyetujui kemungkaran di tengah-tengah mereka. Apabila mereka mengakui kemungkaran itu, maka azab Allah akan menimpa mereka semua baik yang melakuanya maupun yang tidak”

Zainab bintiJahsy bertanya kepada Rasulullah SAW,

“Ya Rasulullah, apakah kami akan binasa juga sedang ada di diantara kami orang-orang yang masih melakukan kebaikan?” Rasulullah SAW menjawab, “Ya, apabila kejahatan telah merata” (HR Muslim)

Nah,sekarang kejahatan dah meraja lela, liat aja kampus kita,banyak hal-hal yang abnormal dan merusak moral yang masih doyang bercokol di diri mahasiswa (kondom berkeliaran di tangan mahasiswa, minuman keras menjadi biasa, gak sholat gak puasa menjadi trend, menyontek, titip absen,dan lain2) , apa masih mau bilang “saya mah mau sholeh sendiri aja , ngapain ngurusin orang” dan siap ikut dibinasakan oleh Allah??.

Oleh karena itu kewajiban amar ma’ruh nahi munkar oleh para ulama diberi hukum Fardhu Kifayah..

eeeiiiiitttttssss..

jangan langsung seneng, mentang-mentang fardhu kifayah, langsung melakukan pembelaan diri, “karena Fardhu kifayah itu maksudnya adalah jika sudah ada sebagain yeng menunaikan, maka sebagian yang lain tidak dikenai kewajiban berda’wah, naaaaaah…kan udah ada tuh kakak2, teteh2, akang2, yang pada da’wah di kampus, kan udah ada tuh ustadz2, ustdzah2, dan  ulama2 yang pada ceramah…, asik-asiiiik bebassssss” Ya enggggaaaaaaaak gituuuuu lah,

maksud Fardhu Kifayahnya itu adalah …

Para ulama berpendapat bahwa Fardhu kifayah disini adalah kewjiban itu tertunaikan apabila tersedia jumlah yang cukup untuk menyelesaikan beban-beban da’wah. Jika BELUM tersedia jumlah yang cukupi (kifai’iyah) beban kewajiban masih terpikulkan kepada semua kaum muslimin dan muslimat.

Nah… melihat keadaan sekarang, dengan jumlah orang-orang yang ‘ngeh’ untuk melakukan nahi munkar, apakah ma’siat telah hilang?? boro2…. malah mati satu tumbuh bejibun… ckckckc.. tandanya, kewajiban da’wah masih di bebankan di pundak saya, kamu, temen-temen kamu, orang sekitar, dan seluruh umat muslim di dunia…

Seperti di kapal tadi, andaikan penumpang atas banyak yang membantu, Insya Allah kapalnya bisa segera di perbaiki sebelum tenggelam…

Oleh karena itu, kayaknya dah gak jaman lagi deh sekarang mau sholeh sendiri, atau mau jadi ahli neraka (nau’dzubillah),

mari sama sama mengajak kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran,dan jangan lupa ajak yang lain juga…

dari hal-hal yang kecil, dari diri sendiri, dan dimulai dari sekarang…

“Dan siapakah yang lebih baik perkataanyya daripada orang-orang yang berdakwah kepada Allah dan beramal shaleh, dan mereka berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang yang berserah diri” (Fushilat : 33)

“Barang siapa diantar kalian melihat kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya, apabila tidak mampu maka hendaklah mengubah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu hendaklah mengubah dengan hatinya, yang demikian itu selemah-lemahnya iman” (HR Muslim)

“Yaitu  orang-orang yang Kami teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi, niscaya mereka mendirikan Shalat, menunaikan zakat, meyuruh berbuat ma’ruf dan menjegah yang munkar; dan kepada Allah lah kembali segala urusan”(Al Hajj : 41)

Wallahu’alam bissawab, Syukron terima kasih sudah mau baca, Maaf jika ada kata-kata yang salah dan kurang berkenan, semoga kita semua menjadi orang-orang yang beruntung.. AMIN ^_^

Tulisan : http://fsthevanie.wordpress.com/2009/10/27/analogi-kapal-tenggelam-dimana-kah-kita/

Sumber : Menyongsong Mihwar Daulah Karya Utadz Cahyadi Takariawan terbitan Era Adicitra Intermedia

Sumber gambar :http://www.victorialodging.com/files/pallada-tall-ship.jpg

2 Tanggapan

  1. mbak funny…
    tukeran link blog yua…=)

    silahkan, tafadhal, monggo, mangga ^_^
    thanks for coming ^_^

  2. panjang ya tulisannya

    iya tuh, kok panjang banget ya nulisnya??ckckckc ^_^

Tinggalkan Balasan