Gara-gara baca note salah satu teman di FB tentang betapa lelahnya seorang ikhwan dalam mengemban amanah sampai2 ikhwan tersebut menagis selama mengendarai motor, dan saat itu helm menjadi tameng nya…
Jadi teringat 3 tahun yang lalu..
Sore itu, setelah sibuk bermusyawarah berhari-hari, dengan berjuta penat dan tuntutan yang semakin tak kenal waktu dan lelah… Tangisku pun pecah… bersama derasnya hujan sore itu…
Aku berjalan sendiri tanpa menghiraukan teman-temanku yang sibuk berbincang
Masih segar dalam ingatanku saat aku memilih untuk membiarkan payung tertutup rapat, dan tetes-tetes air hujan perlahan membuat jilbabku menjadi basah…
Hangatnya air mata tak dapat melawan dinginya air hujan yang membasahi pipi
Aku tak peduli saat itu, aku tak peduli dengan basah, aku tak peduli dengan tanggapan orang yang saat itu melihat…
Aku hanya tak kuasa menahan tangis yang sudah berminggu-minggu ku tahan…
Ya Rabb…
Begitu lemahnya aku saat itu..
Hanya karena tambahan amanah, aku menangis…
Hanya karena kerasnya pribadi seorang saudaraku, aku jatuh…
Hanya karena kemauan diri ini tak dihargai, aku sakit…
Malu ya Allah jika kuingat saat itu…
malu karena diri tak kuasa menahan emosi jiwa…
Malu, terlalu terbawa suasana langit yang menangis sore itu…
Malu, akan rapuhnya pundak ini..
—————————————–
Hujan, Jalan Setapak di sudut Kampus, Aku dan Engkau menjadi saksi hari itu…

Shiddieq
Mei 10, 2010 at 3:04 pm
wew… sebegitunya kah?
mantap lah!
sthevanie
Mei 10, 2010 at 10:32 pm
haha.. iya kak.. ALAY banget ya… cengeng,, wkwkwkw… belum terbiasa aja kali ye… kalo inget itu teh jadi malu…
sunarnosahlan
Mei 11, 2010 at 1:13 am
pernahkah aku dulu begitu?
lupa
andi ramlawati
Mei 12, 2010 at 10:00 am
Sbagai seorang wanita jika ada beban dhati jalan keluar terbaik biassanya menangis,menangis & menangis,tapi gak salah ko krn stlh air mata tercurah maka beban itu akan terasa ringan walaupun solusi dr permasalahan yg dihadapi belum ada.
Putri Chairina
Mei 22, 2010 at 12:16 pm
Hmmm.. Jadi ingat ketika hari serah-terima jabatan ibu Sri Mulyani.
“Dan ia pun menangis. Tak kuat menahan hati yg brgejolak. Setegar apa pun, ia tetaplah seorang wanita. Yg air matanya menjadi pelipur lara.” (ditulis ulang dari Twitter)
Air mata justru membuat wanita semakin kuat.