RSS

Bersembunyi dibalik sang hujan

10 Mei

Gara-gara baca note salah satu teman di FB tentang betapa lelahnya seorang ikhwan dalam mengemban amanah sampai2 ikhwan tersebut menagis selama mengendarai motor, dan saat itu helm menjadi tameng nya…

Jadi teringat 3 tahun yang lalu..

Sore itu, setelah sibuk bermusyawarah berhari-hari, dengan berjuta penat dan tuntutan yang semakin tak kenal waktu dan lelah… Tangisku pun pecah… bersama derasnya hujan sore itu…

Aku berjalan sendiri tanpa menghiraukan teman-temanku yang sibuk berbincang

Masih segar dalam ingatanku saat aku memilih untuk membiarkan payung tertutup rapat, dan tetes-tetes air hujan perlahan membuat jilbabku menjadi basah…

Hangatnya air mata tak dapat melawan dinginya air hujan yang membasahi pipi

Aku tak peduli saat itu, aku tak peduli dengan basah, aku tak peduli dengan tanggapan orang yang saat itu melihat…

Aku hanya tak kuasa menahan tangis yang sudah berminggu-minggu ku tahan…

Ya Rabb…

Begitu lemahnya aku saat itu..

Hanya karena tambahan amanah, aku menangis…

Hanya karena kerasnya pribadi seorang saudaraku, aku jatuh…

Hanya karena kemauan diri ini tak dihargai, aku sakit…

Malu ya Allah jika kuingat saat itu…

malu karena diri tak kuasa menahan emosi jiwa…

Malu, terlalu terbawa suasana langit yang menangis sore itu…

Malu, akan rapuhnya pundak ini..

—————————————–

Hujan, Jalan Setapak di sudut Kampus, Aku dan Engkau menjadi saksi hari itu…

 

Tentang sthevanie

beautiful sunset of my life
5 Comments

Posted by pada Mei 10, 2010 in My Daily life

 

5 Responses to Bersembunyi dibalik sang hujan

  1. Shiddieq

    Mei 10, 2010 at 3:04 pm

    wew… sebegitunya kah?
    mantap lah!

     
  2. sthevanie

    Mei 10, 2010 at 10:32 pm

    haha.. iya kak.. ALAY banget ya… cengeng,, wkwkwkw… belum terbiasa aja kali ye… kalo inget itu teh jadi malu…

     
  3. sunarnosahlan

    Mei 11, 2010 at 1:13 am

    pernahkah aku dulu begitu?
    lupa

     
  4. andi ramlawati

    Mei 12, 2010 at 10:00 am

    Sbagai seorang wanita jika ada beban dhati jalan keluar terbaik biassanya menangis,menangis & menangis,tapi gak salah ko krn stlh air mata tercurah maka beban itu akan terasa ringan walaupun solusi dr permasalahan yg dihadapi belum ada.

     
  5. Putri Chairina

    Mei 22, 2010 at 12:16 pm

    Hmmm.. Jadi ingat ketika hari serah-terima jabatan ibu Sri Mulyani.

    “Dan ia pun menangis. Tak kuat menahan hati yg brgejolak. Setegar apa pun, ia tetaplah seorang wanita. Yg air matanya menjadi pelipur lara.” (ditulis ulang dari Twitter)

    Air mata justru membuat wanita semakin kuat. :)

     

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.